Dunia Budi Ketika Kau Pergi

Sungguh, kau tak pernah melahirkan seorang kriminal dari rahimmu. Ketika masih kecil tak pernah kau mengajarkan kekerasan padanya. Pun selama ini ia tampak alim dan manut, seperti bocah kecil manis lainnya.
Sekali lagi kau tak percaya ini akan menimpamu. Duduk di ruangan asing ini makin membuatmu merasa sesak, ruangan Polsek dengan interior kaku dan menjenuhkan. Amat berbeda dengan interior restoran yang kau buat menjadi indah, yang semua pelanggan memujimu.
Ah, kau memang telah bekerja di restoran itu sebagai seorang manager yang baik, yang disukai pelanggan. Kau berusahamenunjukkan pekerjaan yang baik di sana. Dengan mudah kau mempunyai banyak pelanggan. Namun justru dari sinilah kau memulai api yang besar ini. Kau nyaris tak pernah meluangkan waktu dengan anakmu di rumah. Hari-harimu adalah pekerjaan.
Kau mengatakan tak punya pilihan sejak ayahnya meninggal. Kau makin sering pergi untuk bekerja mencari kebutuhan hidup.
Oh, kau tak sabar lagi ingin bertemu anakmu. Untung ini hanya sebuah polsek kecil. Sebuah telepon dari kantor polisi yang mengejutkan dirimu. Anakmu terlibat perkelahian dan ia berseteru dengannya. Begitulah tuturan polisi yang menanyaimu.
"Jadi setiap hari Anda di restoran sampai malam?"
"Saya rasa ini bukan persoalan inti, Pak. Bukankah anak yang lainnya juga seperti itu. Mereka ditinggal orang tuanya bekerja."
"Tapi inilah sumber masalahnya. Anda melepaskan anak Anda tanpa pengawasan."
Kau merasa gerah di ruangan ini. Ingin keluar. Waktu sangat berharga. Kau harus segera pergi.
"Apakah saya bisa minta bantuan Bapak?"
"Ya, silahkan."
Kau mencoba mengulas senyum. Langkah ini kau merasa sudah pasti berhasil mengeluarkan anakmu dari sel pengap itu. Berapapun yang diminta.
"Ini yang bisa saya titipkan sekarang, Pak. Kalau kurang, Bapak bisa katakan. Malam ini juga akan saya transfer."
Si polisi itu geleng kepala. Mencibir.
"Bukan seperti ini mekanismenya, Bu. Anda salah mendidik anak, dan Anda membayar saya untuk melepaskan dia dari penjara."
"Saya tidak punya waktu banyak sekarang. Saya janji akan memberinya pelajaran di rumah. Tapi sekarang saya ada perlu lain siang ini. Ada bisnis cabang yang harus ditangani segera."
Kau terkejut polisi itu memberikan uangmu kembali.
"Maaf saya tidak bisa bantu."
Urat di matamu seketika memerah. Napasmu turun naik. "Jangan sok, Pak! Saya sudah sering berurusan seperti ini. Jangan jangan memasang topeng palsu.!"
Kau hampir saja berteriak. Tapi itu urung kau lakukan. Ruangan ini memang kedap suara. Tapi kau lebih heran dengan polisi di depanmu. Terlalu naif menurutmu.
"Baiklan, saya ingin bertemu anak saya sebentar."
Polisi itu mengangguk. Ia mengijinkanmu menengok anakmu yang enggan bertemu denganmu.
Ya, dia telah menolakmu...
Tapi, tidak, kau memang tak pernah menyiapkan untuk yang satu ini. Tidak dalam keseharianmu berhadapan dengan para pelanggan manis yang sering memuji kecakapan pekerjaan dan kecantikanmu.
Kau melihatnya seakan bukan anakmu. Seorang gembel kumal. Dengan riasan hitam nan tebal di bawah matanya dan rambut mohawk menantang langit. Lehernya dipenuhi kalung rantai bak anjing piaraan. Telinganya ditindik dan terpasang anting murahan gaya anak punk. Juga sebuah tato mengintip di balik kemejanya. Sungguh kau tak pernah memerhatikan itu.
Kau hanya menangkupkan tangan ke mulutmu. Matamu berair panas. Kau tak percaya. Hatimu hancur. Kau tak pernah mengira akan ditampar seperti ini.
Dia memang anakmu ketika pintu jeruji itu terbuka. Kau melihat matanya nyalang menatapmu. Tanganmu mencoba terulur. Tangan lentik dan bersih yang penuh perhiasan mahal itu. Yang biasa menjabat klien-klien manis.
"Ya, Tuhan.... Mengapa kau seperti ini Budi?"
Anakmu menolak sentuhanmu. Ia mengingsut menjauh. Penolakan ini membuatmu hancur. Bahkan kau tak bisa marah padanya.
"Ibu tak pernah peduli, kan?"
"Apa yang kau katakan, Budi? Itu tidak benar."
Kau mendekat, memegang lengannya yang kotor dan baret oleh jalanan. Ia habis berkelahi dan lebam itu masih menengger di wajahnya yang tampan.
"Lebih baik itu pergi! Biar Budi hidup di dunia Budi sendiri!"
Kau menghambur mendekapnya. Ya, dia adalah anakmu. Kau tak bisa menciptakan akan seperti yang kau inginkan. Kau hanya bisa menemani dan membimbingnya. namun, selama ini kau telah membiarkannya terlalu lama sendirian. Jika kau meninggalkannya kali ini, sungguh ia akan pergi dari hatimu selamanya...[]

Andri saptono. Menulis segala genre. Bergiat di Pakagula Sastra. Cerita anak Tanda Lahir Keberuntungan (Selaksa, 2012) mendapat nominasi fiksi anak Islam terbaik IBF 2012

0 Response to "Dunia Budi Ketika Kau Pergi"